Rabu, 26 September 2018

Artikel sosial tentang Pendidikan Anak Jalanan



PENTINGNYA PENDIDIKAN BAGI ANAK JALANAN
Di Indonesia, pentingnya peran pendidikan dalam menopang kemajuan sebuah bangsa, seperti sebuah pribahasa indah yang semu dan terpisah dari realitas yang ada, di mana fakta yang terjadi adalah masyarakat miskin tetap kesulitan untuk mengakses pendidikan. Ketidakmerataan akses pendidikan ini tidak hanya menghambat perkembangan dan kemajuan bangsa, pun ketika kondisi ini semakin menggila dan jumlah anak-anak miskin yang tidak mampu mengakses pendidikan semakin bertambah, maka timbulah disfaritas sosial yang sangat tinggi antara si kaya dan si miskin. Pada akhirnya, kondisi carut marut seperti inilah yang menjadi akar dari munculnya konflik dan masalah-masalah sosial lainnya di masyarakat.

Sejatinya, menghadapi kondisi ini pemerintah tidak bersikap lenggang kagkung, namun mereka harus menganggap ini sebagai sebuah persoalan serius yang harus segera di tangani dengan program-program pengentasan yang konkrit, dan bukan sebuah program pengentasan tambal sulam dan sarat dengan kepentingan politik. Keberadaan masyarakat miskin dan anak-anak jalanan yang tidak sekolah merupakan kondisi yang nyata dan harus diatasi. Kelambanan dan ketidakseriusan dalam menangani problem ini akan memperburuk kondisi bangsa ke depan, karena bagaimanapun mereka adalah warga negara dan generasi penerus bangsa.
Selain perosalan-persoalan di atas, rendahnya keasadaran orang tua dan anak jalanan itu sendiri akan pentingnya pendidikan sebagai “investasi” jangka panjang bagi keluarga, masyarakat dan negara pun harus segera  di atasi . Misalnya, mereka beranggapan dengan berada di jalanan dan mendapatkan uang, lebih jelas jika dibandingkan harus mengikuti proses pembelajaran di sekolah yang belum pasti hasilnya apa.

Mengingat perekonomian dan tingkat kesadaran keluarga dan anak-anak jalanan yang masih sangat rendah tentang pentingya pendidikan, maka diperlukan juga pendekatan kepada mereka. Salah satu strategi pendekatan yang mungkin dapat dilakukan adalah menyediakan wadah tempat mereka belajar, serta dengan pendampingan atau bimbingan kelompok belajar yang dilakukan secara kontinue.
Bimbingan kelompok berguna untuk membantu anak jalanan menemukan dirinya sendiri, mengarahkan diri, belajar bersosialisasi menyesuaikan diri dengan lingkungan. Di samping itu, pemberian bimbingan kelompok juga memberikan kesempatan kepada anak jalanan untuk belajar hal-hal penting yang berguna bagi pengarahan dirinya berkaitan dengan masalah pendidikan, pekerjaan, pribadi dan sosial.

Dengan adanya tempat belajar dan pemberian  dampingan,  diharapkan dapat mengubahparadigma berpikir anak jalanan untuk kembali melanjutkan pendidikannya. Ketika pendidikan sudah dianggapsebagai hal yang penting dan masyarakat dapa menikmatinya secara merata maka akan tercipta pendidikan nasional yang mampu mengembangkan segenap potensi peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Artikel ini bersumber dari (https://niken12.wordpress.com/2014/03/20/pentingnya-pendidikan-untuk-anak-jalanan/)

Artikel Ilmiah tentang Flebotomi



FLEBOTOMI
Flebotomi (bahasa inggris:phlebotomy) berasal dari kata Yunani phleb dantomia. Phleb berarti pembuluh darah vena dan tomia berarti mengiris/memotong(“cutting”). Dulu dikenal istilah vena sectie (Bld), venesection atau veni section(Ing).
Sedangkan Flebotomist adalah seorang tenaga medic yang telah mendapat latihanuntuk mengeluarkan dan menampung specimen darah dari pembuluh darah vena,arteri atau kapiler. Teknik flebotomi merupakan suatu cara pengambilan darah (sampling) untuk tujuan tes laboratorium atau bisa juga pengumpulan darah untuk didonorkan
B. Kompetensi minimal seorang Flebotomist
Kompetensi minimal seorang flebotomi antara lain :
1. Flebotomis mampu berkomunikasi dengan pasien untuk menjelaskan tujuan pengambilan darah, apa yang akan dilakukan dan bagaimana caranya, menjelaskan tujuan dan cara persiapan pasien
2. Mampu mengerjakan tugas-tugas administrasi
3. Harus mengerti dan mematuhi prosedur keselamatan pasien dan dirinya.
4. Harus dapat menyiapkan bahan dan alat-alat yang akan digunakan serta memilih antikoagulansia
5. Harus memahami prosedur dan tehnik flebotomi venipuncture dan skinpuncture yang benar
6. Melakukan labelisasi pada tabung / wadah sampel secara benar
7. Mampu melakukan tranportasi sampel secara benar serta tepat waktu ke laboratorium
8. Harus mampu menangani komplikasi akibat pelaksaan flebotomi secara benar dan cepat. (Rikawati 2010)
Perilaku profesional flebotomist
Seseorang dalam melaksanakan tugas dan pekerjaannya mempunyai kompetensi dan keahlian yang tinggi dalam pengambilan darah berpedoman pada perilaku profesional dan bertindak berdasarkan aspek etika moral, etika hukum dan etika profesi.
Ada 3 macam aspek etika yang harus dipatuhi yaitu : etika moral, etika hukum dan etika profesi
1. Etika moral : Merupakan norma-norma yang memberikan pedoman dalam berperilaku yang boleh dilakukan atau yang tidak boleh dilakukan berdasarkan moral dan hati nurani.
2. Etika hukum : Merupakan aturan yang dibuat oleh negara berlaku umum dalam masyarakat dan bersifat mengikat, mempunyai kekuatan hukum berdasarkan suatu Peraturan Perundangan (hukum) yang berlaku.
3. Etika profesi : Merupakan aturan yang dibuat organisasi profesi sbg pedooman moral utk mengatur anggotanya serta bertujuan menjaga mutu profesi, memelihara harkat dan martabat profesi. Sanksi dapat berupa teguran, skorsing atau pemecatat. Etika profesi yg sudah dalam bentuk tertulis secara sistematis sebagai kode etik profesi(Rikawati 2010).



Komplikasi Flebotomi
1. Syncope
Syncope adalah keadaan dimana pasien kehilangan kesadarannya beberapa saat/ sementara waktu sebagai akibat menurunnya tekanan darah. Gejala dapat berupa rasa pusing, keringat dingin, nadi cepat,pengelihatan kabur/ gelap, bahkan bisa sampai muntah. Hal ini biasanya terjadi karena adanya perasaan takut atau akibat pasien puasa terlalu lama. Rasa takut atau cemas bisa juga timbul karena kurang percaya diri Itulah sebabnya mengapa perlu memberikan penjelasan kepada pasien tentang tujuan pengambilan darah dan prosedur yang akan dialaminya.Penampilan dan prilaku seorang Flebotomis juga bisa mempengaruhi keyakinan pasien sehingga timbul rasa curiga/ was-was ketika proses pengambilan darah akan dilaksanakan. Oleh sebab itu penampilan dan prilaku seorang flebotomis harus sedemikian rupa sehingga tampak berkompetensi dan Fropesional
Cara mengatasi
a. Hentikan pengambilan darah
b. Baringkan pasien ditempat tidur, kepala dimiringkan kesalah satusisi
c. Tungkai bawah ditinggikan ( lebih tinggi dari posisi kepala )
d. Longgarkan baju yang sempit dan ikat pinggang
e. Minta pasien menarik nafas panjang
f. Hubungi dokter
g. Pasien yang tidak sempat dibaringkan , diminta menundukan kepala diantara kedua kakinya dan menarik nafas panjang
Cara Pencegahan
a. Pasien diajak bicara supaya perhatiannya dapat dialihkan. Pasien yang akan dirawat syncope sebaiknya dianjurkan berbaring pada waktu pengambilan darah. Kursi pasien mempunyai sandaran dan tempat/ sandaran tangan
2. Rasa Nyeri
Rasa nyeri berlangsung tidak lama sehingga tidak memerlukan penanganan khusus. Nyeri bisa timbul akibat alkosol yang belum kering atau akibat penarikan jarum yang terlalu kuat
Cara pencegahan
a. Setelah disinfeksi kulit, yakin dulu bahwa alcohol sudah mengering sebelum pengambilan darah dilakukan.
b. Penarikan jarum tidak terlalu kuat
c. Penjelasan/ Menggambarkan sifat nyeri yang sebenarnya (memberi contoh )
3. Hematoma
Hematoma dalah terkumpulnya massa darah dalam jaringan (dalam Hal Flebotomi : jaringan dibawah kulit ) sebagai akibat robeknya pembuluh darah. Faktor penyebab terletak pada teknik pengambilan darah :
a. Jarum terlalu menungkin sehingga menembus dinding vena
b. Penusukan jarum dangkal sehingga sebagian lubang jarum berada diluar vena
c. Setelah pengambilan darah, tempat penusukan kurang ditekan atau kurang lama ditekan
d. Pada waktu jarum ditarik keluar dari vena, tourniquet ( tourniket)belum dikendurkan
e. Temapat penusukan jarum terlalu dekat dengan tempat turniket.
Cara mengatasi
Jika dalam proses pengambilan darah terjadi pembengkakan kulit disekitar tempat penusukan jarum segera
1) Lepaskan turniket dan jarum
2) Tekan tempat penusukan jarum dengan kain kasa
3) Angkat lengan pasien lebih tinggi dari kepala (+- 15 menit)
4) Kalau perlu kompres untuk mengurangi rasa nyeri
4. Pendarahan
Komplikasi pendarahan lebih sering terjadi pada pengambilan darah alteri. Pengambilan darah kapiler lebih kurang resikonya.Pendarahan yang berlebihan ( atau sukar berhenti ) terjadi karena terganggunya system kouglasi darah pasien. Hal ini bisa terjadi karena :
a. Pasien mengalami pengobatan dengan obat antikougulan sehingga menghambat pembekuan darah
b. Pasien menderita gangguan pembekuan darah ( trombositopenia,defisiensi factor pembeku darah (misalnya hemofilia )
c. Pasien mengidap penyakit hati yang berat ( pembentukanprotrombin, fibrinogen terganggu )
Cara Mengatasi :
a. Tekan tempat pendarahan
b. Panggil perawat/dokter untuk penanganan selanjutnya
Cara pencegahan
a. Perlu anamnesis ( wawancara) yang cermat denga pasien
b. Setelah pengambilan darah, penekanan tempat penusukan jarum perlu ditekan lebih lama
5. Allergi
Alergi bisa terjadi terhadap bahan- bahan yang dipakai dalam flebotomi, misalnya terhadap zat antiseptic/ desinfektan, latex yang adapada sarung tangan, turniket atau plester.Gejala alergi bisa ringan atau berat, berupa kemerahan, rhinitis,radang selaput mata; kadang-kadang bahkan bisa (shock)\
Cara mengatasi :
a. Tenangkan pasien, beri penjelasan
b. Panggil dokter atau perawat untuk penanganan selanjutnya
Cara pencegahan
a. Wawancara apa ada riwayat allergi
b. Memakai plester atau sarung-tangan yang tidak mengandung latex
6. Trombosis
Terjadi karena pengambilan darah yang berulang kali ditempatyang sama sehingga menimbulkan kerusaka dan peradangan setempatdan berakibat dengan penutupan ( occlusion ) pembuluh darah. Hal ini juga terlihat pada kelompok pengguna obat ( narcotics ) yang memakai pembuluh darah vena.
Cara pencegahan
a. Hindari pengambilan berulang ditempat yang sama
b. Pembinaan peninap narkotika
7. Radang Tulang
Penyakit ini sering terjadi pada bayi karena jarak kulit-tulang yangsempit dan pemakaian lanset yang berukuran panjang
Cara mengatasi: Mengatasi peradangan tulang
Cara Pencegahan:
a. Menggunakan lanset yang ukurannya sesuai. Saat ini sudah dipasarkan lanset dalam berbagai ukuran disesuaikan dengan kelompok usia.
b. Setiap kejadian komplikasi Flebotomi harus dilaporkan kepada dokter dan dicatat dalam buku catatan tersendiri dengan mencantumkan identitas pasien selengkapnya, tanggal dan jam kejadian, dan tindakan yang diberikan.
8. Amnesia
Pada bayi, terutama bayi baru lahir dimana volume darah sedikit, pengambilan darah berulang dapat menyebabkan anemia. Selain itu pengambilan darah kapiler pada bayi terutama yang bertulang dapat menyebabkan selulitis, abses, osteomielitis, jaringan parut dan nodul klasifikasi. Nodul klasifikasi tersebut mula-mula tampak seperti lekukanyang 12 bulan kemudian akan menjadi nodul dan menghilang dalam 18-20 bulan.
9. Komplikasi neuologis
Komplikasi neurologist dapat bersifat local karena tertusuknya syaraf dilokasi penusukan, dan menimbulkan keluhan nyeri ataukesemutan yang menjalar ke lengan, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Walaupun jarang, serangan kejang ( seizures) dapat pula terjadi.
Penanganan :
a. Pasien yang mengalami serangan saat pengambilan darah harus dilindungi dari perlukaan.
b. Hentikan pengambilan darah, baringkan pasien dengan kepala miringkan ke satu sisi, bebaskan jalan nafas, hindari agar lidah tidak tergigit.
c. Segera mungkin aktifkan perlengkapan keselamatan, hubungi dokter
d. Lakukan penekanan secukupnya di daerah penusukan sambil membatasi pergerakan pasien.
Artikel ini bersumber dari (http://khintanrahma22.mahasiswa.unimus.ac.id/2017/04/26/plebotomi/)

Artikel ilmiah tentang Donor Darah



DONOR DARAH
Donor darah adalah proses pengambilan darah dari seseorang secara sukarela untuk disimpan di bank darah untuk kemudian dipakai pada transfusi darah. Transfusi Darah adalah proses pemindahan darah dari seseorang yang sehat (donor) ke orang sakit (respien). Darah yang dipindahkan dapat berupa darah lengkap dan komponen darah.
Transfusi darah pada masa kini
Enam puluh tahun terakhir terjadi perkembangan pada bidang transfusi darah. Pada awal abad ke 20 darah disimpan dalam botol gelas yang digunakan kembali (reuseable), banyak reaksi akibat kontaminasi bakteri maupun kejadian emboli udara pada transfusi. Pada tahun 1949 penggunaan kantong darah dari plastik sekali pakai (disposible) dikenalkan oleh Palang Merah Amerika. Penggunaan antikoagulan Citrate Phosphate Dextrose (CPD) dapat meningkatkan masa simpan darah selama 28 hari. CPDA-1 (Citrate Phosphate Dextrose Adenine) yang dikembangkan tahun 1979 dapat meningkatkan masa simpan darah selama 35 hari dan CPDA-2 pada tahun 1980-an sampai 42 hari.
Dr. Judith Graham Pool (1919-1975) menemukan cryoprecipitasi tahun 1965, dengan proses ini dapat diperoleh faktor pembekuan (khususnya faktor VIII) yang dapat diberikan untuk pasien hemofilia.
 1969 S. Murphy dan F. Gardner menunjukkan penerapan penyimpanan trombosit pada termperatur ruang. Tahun 1971 Dr. Baruch Blumberg mengidentifikasi substansi Hepatitis B dan pemeriksaan terhadap Hepatitis B surface antigen (HBsAg) pada darah donor mulai dilakukan.
Tahun 1981 ditemukan kumpulan gejala yang disebut GRID (Gay-related Immunodeficiency Disease) karena ditemukan pada kaum gay pria, gejala ini kemudian dinamakan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). Tahun 1983 Dr. Luc Montagnier (1932-sekarang) mengisolasi virus penyebab AIDS yang kemudian oleh dr. Robert Gallo pada tahun 1984 disebut sebagai HTLV-III (Human T-cell Lymphotropic Virus). Setelah terjadinya infeksi AIDS dari transfusi darah, tahun 1985 dilakukan pemeriksaan antibodi HIV pada darah donor.
Tahun 1990 ditemukan tes spesifik untuk hepatitis C sebagai penyebab hepatitis non A, non B. Tahun 1987–2008 serial tes berkembang dalam skrining darah donor dari penyakit-penyakit infeksi. Untuk mendeteksi hepatitis B digunakan tes HBsAg, untuk deteksi hepatitis C digunakan tes Anti-HCV, untuk mendeteksi sifilis dengan VDRL atau TPHA dan untuk mendeteksi HIV dengan tes Elisa untuk mengetahui adanya Anti-HIV1 atau Anti-HIV2 atau dengan mendeteksi antigen HIV p24. Saat ini dapat dilakukan pemeriksaan NAT (Nucleic Acid Amplification Testing) yang dapat secara langsung mendeteksi material genetik dari virus seperti HCV dan HIV.
Artikel ini bersumber dari (sumehcher.blogspot.com/2011/06/makalah-donor-darah-sukarela.html)

Kegunaan Darah Yang Didonorkan

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, mendonorkan darah dapat menyelamatkan nyawa. Darah dapat digunakan dalam berbagai bentuk untuk berbagai situasi dan kondisi pasien. Sesudah kita mendonorkan darah, maka darah akan dites di laboratorium, untuk dilakukan skrening terhadap berbagai jenis virus dan infeksi, seperti misalnya HIV dan hepatitis.

Sebelum Melakukan Donor Darah

Ketika hendak mendonorkan darah, maka calon donor dapat mengambil dan menandatangani formulir pendaftaran, lalu menjalani pemeriksaan pendahuluan seperti kondisi berat badan, HB, golongan darah, serta dilanjutkan dengan pemeriksaan dokter. Hal inilah yang penting dilakukan, karena biasanya setelah selesai mendonorkan darah, maka tubuh akan terasa lemas sehingga bagi yang memilikitekanan darah rendah, akan beresiko untuk mengalami anemia.

Selain itu juga, demi menjaga keamanan darah dan juga kesehatan sang calon donor, maka calon donor darah yang memiliki kondisi tertentu tidak dapat diterima untuk mendonorkan darahnya. Kondisi-kondisi tersebut ada;ah : alkoholik, mempunyai penyakit hepatitis, diabetes melitius, epilepsi, termasuk golongan masyarakat yang beresiko tinggi terkena penyakit HIV/AIDS, sedang mengalami sakit demam/influenza, baru dicabut giginya (kurang dari 3 hari), pernah menerima tranfusi darah (kurang dari 1 tahun), baru mampunyai tato, ditindik, akupuntur (kurang dari 1 tahun), serta sedang hamil/menyusui. Mereka dengan kondisi diatas untuk sementara waktu tidak daoat untuk mendonorkan darahnya.


Proses Saat Melakukan Donor Darah

Bila sudah tiba waktunya untuk mendonorkan darah, maka kita akan ditempatkan di kursi tempat tidur untuk berbaring dengan lengan yang diluruskan. Kemudian akan dipasang alat untuk menghentikan pendarahan/turniket dilengan bagian atas, supaya pembuluh vena menjadi lebih mudah terlihat dan lebih mudah untuk dimasuki jarum, serta dapat membuat kantung darah terisi lebih cepat.

Setelah itu, kulit di lengan bagian dalam akan dibersihkan, kemudian jarum yang baru dan steril akan dimasukkan kedalam pembuluh vena di lengan. Jarum tersebut akan tersambung dengan tube plastic dan kantung darah. Begitu jarum sudah terpasang di pembuluh vena, maka kepal-kepalkan tangan beberapa kali supaya darah lebih mudah mengalir. Awalnya, darah akan diambil di tube untuk pemeriksaan, kemudian setelah itu darah dialirkan untuk memenuhi kantung. Biasanya proses pengisian kantung darah berlangsung selama 15 menit/ ketika selesai, jarum akan dipindahkan, untuk kemudian plaster kecil akan diletakkan di bekas tusukan jarum tersebut.

Setelah Melakukan Donor Darah
           
            Setelah melakukan prosedur  donor darah, biasanya kita akan duduk dahulu di tempat istirahat untuk mengkonsumsi makanan kecil dan 10-15 menit kemudian sudah meninggalkan tempat tersebut.

Berikut adalah beberapa tips setelah melakukan donor darah :

         Banyak mengkonsumsi cairan selama 1-2 hari kemudian.
         Hindari melakukan aktifitas fisik yang berat/mengangkat beban  berat selama 5 jam kedepan.
         Bila merasa pusing, sebaiknya berbaring dengan kaki diangkat hingga perasaan pusing tersebut hilang.
         Biarkan perban tetap menutupi  bekas luka jarum transfuse setidaknya 4 jam.
         Bila mengalami pendarahan setelah melepaskan plester, tekanlah di tempat bekas suntikan tersebut dan naikkan lengan selama 3-5 menit.
         Bila pendarahan atau luka terjadi dibawah kulit, kompres area tersebut dengan kompres dingin secara periodic selama 24 jam.
         Bila lengan terasa sakit, minum obat pereda nyeri seperti paracetamol. Hindari mengkonsumsi obat pereda nyeri acetosal atau ibuprofen.

Mendonorkan darah sangat aman untuk dilakuakan dan tidak membahayakan kesehatan.
Jadi jangan ragu lagi untuk melakukan donor darah, karena dengan mendonorkan darah, kita dapat menyelamatkan nyawa.