Rabu, 26 September 2018

Artikel ilmiah tentang Donor Darah



DONOR DARAH
Donor darah adalah proses pengambilan darah dari seseorang secara sukarela untuk disimpan di bank darah untuk kemudian dipakai pada transfusi darah. Transfusi Darah adalah proses pemindahan darah dari seseorang yang sehat (donor) ke orang sakit (respien). Darah yang dipindahkan dapat berupa darah lengkap dan komponen darah.
Transfusi darah pada masa kini
Enam puluh tahun terakhir terjadi perkembangan pada bidang transfusi darah. Pada awal abad ke 20 darah disimpan dalam botol gelas yang digunakan kembali (reuseable), banyak reaksi akibat kontaminasi bakteri maupun kejadian emboli udara pada transfusi. Pada tahun 1949 penggunaan kantong darah dari plastik sekali pakai (disposible) dikenalkan oleh Palang Merah Amerika. Penggunaan antikoagulan Citrate Phosphate Dextrose (CPD) dapat meningkatkan masa simpan darah selama 28 hari. CPDA-1 (Citrate Phosphate Dextrose Adenine) yang dikembangkan tahun 1979 dapat meningkatkan masa simpan darah selama 35 hari dan CPDA-2 pada tahun 1980-an sampai 42 hari.
Dr. Judith Graham Pool (1919-1975) menemukan cryoprecipitasi tahun 1965, dengan proses ini dapat diperoleh faktor pembekuan (khususnya faktor VIII) yang dapat diberikan untuk pasien hemofilia.
 1969 S. Murphy dan F. Gardner menunjukkan penerapan penyimpanan trombosit pada termperatur ruang. Tahun 1971 Dr. Baruch Blumberg mengidentifikasi substansi Hepatitis B dan pemeriksaan terhadap Hepatitis B surface antigen (HBsAg) pada darah donor mulai dilakukan.
Tahun 1981 ditemukan kumpulan gejala yang disebut GRID (Gay-related Immunodeficiency Disease) karena ditemukan pada kaum gay pria, gejala ini kemudian dinamakan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). Tahun 1983 Dr. Luc Montagnier (1932-sekarang) mengisolasi virus penyebab AIDS yang kemudian oleh dr. Robert Gallo pada tahun 1984 disebut sebagai HTLV-III (Human T-cell Lymphotropic Virus). Setelah terjadinya infeksi AIDS dari transfusi darah, tahun 1985 dilakukan pemeriksaan antibodi HIV pada darah donor.
Tahun 1990 ditemukan tes spesifik untuk hepatitis C sebagai penyebab hepatitis non A, non B. Tahun 1987–2008 serial tes berkembang dalam skrining darah donor dari penyakit-penyakit infeksi. Untuk mendeteksi hepatitis B digunakan tes HBsAg, untuk deteksi hepatitis C digunakan tes Anti-HCV, untuk mendeteksi sifilis dengan VDRL atau TPHA dan untuk mendeteksi HIV dengan tes Elisa untuk mengetahui adanya Anti-HIV1 atau Anti-HIV2 atau dengan mendeteksi antigen HIV p24. Saat ini dapat dilakukan pemeriksaan NAT (Nucleic Acid Amplification Testing) yang dapat secara langsung mendeteksi material genetik dari virus seperti HCV dan HIV.
Artikel ini bersumber dari (sumehcher.blogspot.com/2011/06/makalah-donor-darah-sukarela.html)

Kegunaan Darah Yang Didonorkan

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, mendonorkan darah dapat menyelamatkan nyawa. Darah dapat digunakan dalam berbagai bentuk untuk berbagai situasi dan kondisi pasien. Sesudah kita mendonorkan darah, maka darah akan dites di laboratorium, untuk dilakukan skrening terhadap berbagai jenis virus dan infeksi, seperti misalnya HIV dan hepatitis.

Sebelum Melakukan Donor Darah

Ketika hendak mendonorkan darah, maka calon donor dapat mengambil dan menandatangani formulir pendaftaran, lalu menjalani pemeriksaan pendahuluan seperti kondisi berat badan, HB, golongan darah, serta dilanjutkan dengan pemeriksaan dokter. Hal inilah yang penting dilakukan, karena biasanya setelah selesai mendonorkan darah, maka tubuh akan terasa lemas sehingga bagi yang memilikitekanan darah rendah, akan beresiko untuk mengalami anemia.

Selain itu juga, demi menjaga keamanan darah dan juga kesehatan sang calon donor, maka calon donor darah yang memiliki kondisi tertentu tidak dapat diterima untuk mendonorkan darahnya. Kondisi-kondisi tersebut ada;ah : alkoholik, mempunyai penyakit hepatitis, diabetes melitius, epilepsi, termasuk golongan masyarakat yang beresiko tinggi terkena penyakit HIV/AIDS, sedang mengalami sakit demam/influenza, baru dicabut giginya (kurang dari 3 hari), pernah menerima tranfusi darah (kurang dari 1 tahun), baru mampunyai tato, ditindik, akupuntur (kurang dari 1 tahun), serta sedang hamil/menyusui. Mereka dengan kondisi diatas untuk sementara waktu tidak daoat untuk mendonorkan darahnya.


Proses Saat Melakukan Donor Darah

Bila sudah tiba waktunya untuk mendonorkan darah, maka kita akan ditempatkan di kursi tempat tidur untuk berbaring dengan lengan yang diluruskan. Kemudian akan dipasang alat untuk menghentikan pendarahan/turniket dilengan bagian atas, supaya pembuluh vena menjadi lebih mudah terlihat dan lebih mudah untuk dimasuki jarum, serta dapat membuat kantung darah terisi lebih cepat.

Setelah itu, kulit di lengan bagian dalam akan dibersihkan, kemudian jarum yang baru dan steril akan dimasukkan kedalam pembuluh vena di lengan. Jarum tersebut akan tersambung dengan tube plastic dan kantung darah. Begitu jarum sudah terpasang di pembuluh vena, maka kepal-kepalkan tangan beberapa kali supaya darah lebih mudah mengalir. Awalnya, darah akan diambil di tube untuk pemeriksaan, kemudian setelah itu darah dialirkan untuk memenuhi kantung. Biasanya proses pengisian kantung darah berlangsung selama 15 menit/ ketika selesai, jarum akan dipindahkan, untuk kemudian plaster kecil akan diletakkan di bekas tusukan jarum tersebut.

Setelah Melakukan Donor Darah
           
            Setelah melakukan prosedur  donor darah, biasanya kita akan duduk dahulu di tempat istirahat untuk mengkonsumsi makanan kecil dan 10-15 menit kemudian sudah meninggalkan tempat tersebut.

Berikut adalah beberapa tips setelah melakukan donor darah :

         Banyak mengkonsumsi cairan selama 1-2 hari kemudian.
         Hindari melakukan aktifitas fisik yang berat/mengangkat beban  berat selama 5 jam kedepan.
         Bila merasa pusing, sebaiknya berbaring dengan kaki diangkat hingga perasaan pusing tersebut hilang.
         Biarkan perban tetap menutupi  bekas luka jarum transfuse setidaknya 4 jam.
         Bila mengalami pendarahan setelah melepaskan plester, tekanlah di tempat bekas suntikan tersebut dan naikkan lengan selama 3-5 menit.
         Bila pendarahan atau luka terjadi dibawah kulit, kompres area tersebut dengan kompres dingin secara periodic selama 24 jam.
         Bila lengan terasa sakit, minum obat pereda nyeri seperti paracetamol. Hindari mengkonsumsi obat pereda nyeri acetosal atau ibuprofen.

Mendonorkan darah sangat aman untuk dilakuakan dan tidak membahayakan kesehatan.
Jadi jangan ragu lagi untuk melakukan donor darah, karena dengan mendonorkan darah, kita dapat menyelamatkan nyawa.



24 komentar:

  1. Makasih ilmunya saya jadi tau tata cara yang lebih baik lagi tentang donor darah❤

    BalasHapus
  2. Semangat terus berbagi ilmunya, Keren 😍

    BalasHapus
  3. Keren, jadi bnyak tau banyab ilmu.. Good 👍

    BalasHapus
  4. Informasi ini membuat pengetahuan saya berkembang

    BalasHapus
  5. Informasi yang sangat bermanfaat 👍

    BalasHapus