DONOR DARAH
Donor darah adalah proses
pengambilan darah dari seseorang secara sukarela untuk disimpan di bank
darah untuk kemudian dipakai pada transfusi darah. Transfusi Darah
adalah proses pemindahan darah dari seseorang yang sehat (donor) ke orang sakit
(respien). Darah yang dipindahkan dapat berupa darah lengkap dan komponen
darah.
Transfusi darah pada masa kini
Enam
puluh tahun terakhir terjadi perkembangan pada bidang transfusi darah. Pada
awal abad ke 20 darah disimpan dalam botol gelas yang digunakan kembali (reuseable),
banyak reaksi akibat kontaminasi bakteri maupun kejadian emboli udara pada
transfusi. Pada tahun 1949 penggunaan kantong darah dari plastik sekali pakai (disposible)
dikenalkan oleh Palang Merah Amerika. Penggunaan antikoagulan Citrate Phosphate
Dextrose (CPD) dapat meningkatkan masa simpan darah selama 28 hari. CPDA-1
(Citrate Phosphate Dextrose Adenine) yang dikembangkan tahun 1979 dapat
meningkatkan masa simpan darah selama 35 hari dan CPDA-2 pada tahun 1980-an
sampai 42 hari.
Dr.
Judith Graham Pool (1919-1975) menemukan cryoprecipitasi tahun 1965, dengan
proses ini dapat diperoleh faktor pembekuan (khususnya faktor VIII) yang dapat
diberikan untuk pasien hemofilia.
1969 S. Murphy dan F. Gardner menunjukkan
penerapan penyimpanan trombosit pada termperatur ruang. Tahun 1971 Dr. Baruch Blumberg mengidentifikasi
substansi Hepatitis B dan pemeriksaan terhadap Hepatitis B surface antigen (HBsAg)
pada darah donor mulai dilakukan.
Tahun
1981 ditemukan kumpulan gejala yang disebut GRID (Gay-related
Immunodeficiency Disease) karena ditemukan pada kaum gay pria, gejala ini
kemudian dinamakan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). Tahun
1983 Dr. Luc Montagnier (1932-sekarang) mengisolasi virus penyebab AIDS yang
kemudian oleh dr. Robert Gallo pada tahun 1984 disebut sebagai HTLV-III (Human
T-cell Lymphotropic Virus). Setelah terjadinya infeksi AIDS dari transfusi
darah, tahun 1985 dilakukan pemeriksaan antibodi HIV pada darah donor.
Tahun
1990 ditemukan tes spesifik untuk hepatitis C sebagai penyebab hepatitis non A,
non B. Tahun 1987–2008 serial tes berkembang dalam skrining darah donor dari
penyakit-penyakit infeksi. Untuk mendeteksi hepatitis B digunakan tes HBsAg, untuk
deteksi hepatitis C digunakan tes Anti-HCV, untuk mendeteksi sifilis dengan
VDRL atau TPHA dan untuk mendeteksi HIV dengan tes Elisa untuk mengetahui
adanya Anti-HIV1 atau Anti-HIV2 atau dengan mendeteksi antigen HIV p24. Saat
ini dapat dilakukan pemeriksaan NAT (Nucleic Acid Amplification Testing)
yang dapat secara langsung mendeteksi material genetik dari virus seperti HCV
dan HIV.
Artikel ini bersumber dari (sumehcher.blogspot.com/2011/06/makalah-donor-darah-sukarela.html)
Kegunaan Darah Yang Didonorkan
Seperti yang telah disebutkan
sebelumnya, mendonorkan darah dapat menyelamatkan nyawa. Darah dapat digunakan
dalam berbagai bentuk untuk berbagai situasi dan kondisi pasien. Sesudah kita
mendonorkan darah, maka darah akan dites di laboratorium, untuk dilakukan
skrening terhadap berbagai jenis virus dan infeksi, seperti misalnya HIV dan
hepatitis.
Sebelum Melakukan Donor Darah
Ketika hendak mendonorkan darah,
maka calon donor dapat mengambil dan menandatangani formulir pendaftaran, lalu
menjalani pemeriksaan pendahuluan seperti kondisi berat badan, HB, golongan
darah, serta dilanjutkan dengan pemeriksaan dokter. Hal inilah yang penting
dilakukan, karena biasanya setelah selesai mendonorkan darah, maka tubuh akan
terasa lemas sehingga bagi yang memilikitekanan darah rendah, akan beresiko
untuk mengalami anemia.
Selain itu juga, demi menjaga
keamanan darah dan juga kesehatan sang calon donor, maka calon donor darah yang
memiliki kondisi tertentu tidak dapat diterima untuk mendonorkan darahnya. Kondisi-kondisi
tersebut ada;ah : alkoholik, mempunyai penyakit hepatitis, diabetes melitius,
epilepsi, termasuk golongan masyarakat yang beresiko tinggi terkena penyakit
HIV/AIDS, sedang mengalami sakit demam/influenza, baru dicabut giginya (kurang
dari 3 hari), pernah menerima tranfusi darah (kurang dari 1 tahun), baru
mampunyai tato, ditindik, akupuntur (kurang dari 1 tahun), serta sedang
hamil/menyusui. Mereka dengan kondisi diatas untuk sementara waktu tidak daoat
untuk mendonorkan darahnya.
Proses Saat Melakukan Donor Darah
Bila sudah tiba waktunya untuk
mendonorkan darah, maka kita akan ditempatkan di kursi tempat tidur untuk
berbaring dengan lengan yang diluruskan. Kemudian akan dipasang alat untuk
menghentikan pendarahan/turniket dilengan bagian atas, supaya pembuluh vena
menjadi lebih mudah terlihat dan lebih mudah untuk dimasuki jarum, serta dapat
membuat kantung darah terisi lebih cepat.
Setelah itu, kulit di lengan
bagian dalam akan dibersihkan, kemudian jarum yang baru dan steril akan
dimasukkan kedalam pembuluh vena di lengan. Jarum tersebut akan tersambung
dengan tube plastic dan kantung darah. Begitu jarum sudah terpasang di pembuluh
vena, maka kepal-kepalkan tangan beberapa kali supaya darah lebih mudah
mengalir. Awalnya, darah akan diambil di tube untuk pemeriksaan, kemudian
setelah itu darah dialirkan untuk memenuhi kantung. Biasanya proses pengisian
kantung darah berlangsung selama 15 menit/ ketika selesai, jarum akan
dipindahkan, untuk kemudian plaster kecil akan diletakkan di bekas tusukan
jarum tersebut.
Setelah Melakukan Donor Darah
Setelah melakukan prosedur donor darah, biasanya kita akan duduk dahulu
di tempat istirahat untuk mengkonsumsi makanan kecil dan 10-15 menit kemudian
sudah meninggalkan tempat tersebut.
Berikut adalah beberapa tips setelah melakukan
donor darah :
Banyak mengkonsumsi cairan selama 1-2 hari kemudian.
Hindari melakukan aktifitas fisik yang berat/mengangkat beban berat
selama 5 jam kedepan.
Bila merasa pusing, sebaiknya berbaring dengan kaki diangkat hingga perasaan
pusing tersebut hilang.
Biarkan perban tetap menutupi bekas luka jarum transfuse setidaknya 4
jam.
Bila mengalami pendarahan setelah melepaskan plester, tekanlah di tempat bekas
suntikan tersebut dan naikkan lengan selama 3-5 menit.
Bila pendarahan atau luka terjadi dibawah kulit, kompres area tersebut dengan
kompres dingin secara periodic selama 24 jam.
Bila lengan terasa sakit, minum obat pereda nyeri seperti paracetamol. Hindari
mengkonsumsi obat pereda nyeri acetosal atau ibuprofen.
Mendonorkan darah sangat aman
untuk dilakuakan dan tidak membahayakan kesehatan.
Jadi jangan ragu lagi untuk melakukan donor darah,
karena dengan mendonorkan darah, kita dapat menyelamatkan nyawa.
Artikel ini bersumber dari (http://ramamuare.blogspot.com/2012/06/donor-darah-dapat-menyelamatkan-jiwa.html)
Bagussss , mantap , lanjutkan
BalasHapusMakasihhh
HapusMantul ka
BalasHapusMantap betul? Hehe
HapusMantapp
BalasHapusYuhuuu
HapusMakasih ilmunya saya jadi tau tata cara yang lebih baik lagi tentang donor darah❤
BalasHapusTerimakasih juga telah berkunjung
HapusSemangat terus berbagi ilmunya, Keren 😍
BalasHapusAlhamdulillah aamiin
HapusBagus, sangat bermanfaat
BalasHapusterimakasi:)
Hapussubhanallah
BalasHapusWalhamdulillah
HapusBagus dan menambah wawasan
BalasHapusKeren, jadi bnyak tau banyab ilmu.. Good 👍
BalasHapusTerima kasih atas Infonya
BalasHapusInformasi ini membuat pengetahuan saya berkembang
BalasHapusmakasih infonya
BalasHapusInformasi yang sangat bermanfaat 👍
BalasHapusTerimakasih infonya...
BalasHapusWidihh mantap
BalasHapusWidihh mantap
BalasHapusTerimakasihhh
BalasHapus